December 4, 2020
Inilah Alasan Kenapa Jasad Di Gunung Everest Dibiarkan Begitu Saja

Inilah Alasan Kenapa Jasad Di Gunung Everest Dibiarkan Begitu Saja

Para pecinta hiking yang punya hobi naik gunung, pasti tahu bahwa puncak tertinggi di dunia adalah puncak gunung Everest. Tempat ini kerap disebut sebagai titik tertinggi yang paling dekat dengan langit. Suhunya yang sangat dingin, dengan persediaan oksigen terbatas, disertai cuaca yang ekstrem, juga telah merenggut nyawa ratusan orang yang berusaha menaklukkannya. Bak meminta tumbal, kematian hampir setiap tahun terjadi di lokasi gunung ini. Untuk mereka yang mengalah pada kekuatan Everest, tidak akan ada tim SAR yang menyelamatkan atau membantu proses evakuasi, lho. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Inilah ulasannya.

Biaya pengambilan jenazah mahal

Biaya pengambilan jenazah mahal

Dalam sejarah pendaki Indonesia, hanya terdapat 5 orang saja yang berhasil menaklukkan puncak tertinggi dunia tersebut. Dua diantaranya adalah Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Matilda Dwi Lestari yang sampai di puncak pada 17 Mei 2018 lalu. Keduanya merupakan mahasiswa dari universitas Kristen Parahiyangan Bandung. Menurut Deedee dan Matilda, mereka juga sempat menjumpai jasad abadi yang sudah menjadi es di tengah perjalanan mereka. Salah satu alasan mengapa jasad tersebut tidak diambil adalah biaya pengambilan yang sama mahalnya degnan biaya naik gunung, yaitu sekitar Rp 1 milyar. Dengan begitu, pihak keluarga hanya bisa merelakan orang yang mereka sayangi membeku selamanya di Everest.

Menyelamatkan sama saja dengan bunuh diri secara perlahan

Menyelamatkan sama saja dengan bunuh diri secara perlahan

Ada banyak penyebab yang membuat para pendaki tewas ditempat tentunya. Medan yang licin dan juga sulit, faktor kelebihan, serta yang paling banyak adalah tidak kuat menghadapi cuaca yang super dingin atau hipothermia. Puncak Everest berada pada ketinggian 8.848 mdpl, sedangkan pada ketinggian 8.000 m saja, zona tersebut sudah dinamakan “Death Zone” atau Zona Kematian. Hal ini dikarenakan minimnya pasokan oksigen dan para pendaki sendiri harus membawa dua tabung yang digunakan demi membantu mereka untuk bernapas.

Baca Juga  H. H. Holmes, Pembunuh Berantai Pertama Di Amerika Serikat

Tidak hanya itu saja, Deedee dan Matilda mengatakan pakaian berlapis yang digunakan oleh para pendaki sangat berat, sehingga memberikan pertolongan pada orang lain adalah hal yang sangat mustahil kecuali jika memang pasrah dan berniat mengantar nyawa bersama di Everest.

Pendaki akan dibiarkan sekarat dan meninggal dengan mengenaskan

Pendaki akan dibiarkan sekarat dan meninggal dengan mengenaskan

Pendaki yang datang ke Everest bisa disebut sebagai manusia yang punya nyali sangat besar dan sudah siap dengan menghadapi resiko kematian. Bisa saja mereka datang dengan rombongan, namun saat sudah tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan, maka rekan-rekan satu rombongan mereka harus meninggalkan orang tersebut.

Ini bukna masalah tega atau tidak berkeperimanusiaan, ya. Tetapi selain beresiko pada si penolong, orang yang sudah lemah juga akan lebih tersiksa jika harus dipaksa bergerak. Jika mereka mengalami insiden yang tidak diinginkan, maka ditempat yang sangat dingin, organ itdak mampu bekerja secara normal kembali. Dengan demikian, hampir dapat dipastikan mereka akan kian melemah hingga akhirnya meninggal dunia.

Menjadi penunjuk jalan dan ukuran ketinggian untuk pendaki lain

Menjadi penunjuk jalan dan ukuran ketinggian untuk pendaki lain

Hingga saat ini, terdapat ratusan nyawa yang gugur di Everest. Dan salah satu yang cukup tersohor adalah yang dikenal dengan sebutan “The Green Boots”. Ini sebutan untuk seorang pendaki yang wafat di Death Zone dan diketahui menggunakan sepatu boot berwarna hijau. Meski menyedihkan, namun ternyata ada gunanya juga jasad yang dibiarkan begitu saja. Mereka bisa menjadi penunjuk jalan untuk para pendaki di masa depan karena kebanyakan pendaki wafat pada zona kematian, maka Green Boots menjadi penanda bahwa sebentar lagi para pendaki akan mencapai puncak gunung.

Setiap pendaki pada umumnya membawa catatan sebagai bukti dokumentasi perjalanan mereka. Jadi, jika mereka tewas di tengah perjalanan, maka catatan yang mereka buat yang mungkin saja bisa merupakan pesan pada keluarga akan dibawa oleh para sahabat dan disampaikan kepada keluarga.

Baca Juga  7 Boneka Yang Bernyawa Di Dunia

Pedih dan sedih ya. Tapi kalau sudah hobi, lalu menjadi sesuatu yang dicintai serta kemudian ajal menjemput di sana, ya mau bagaimana lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *