October 30, 2020
5 Kota Indah yang Diangkat Menjadi Nama Penyakit

5 Kota Indah yang Diangkat Menjadi Nama Penyakit

London, Paris, Lima, Yerusalem, dan serentetan kota-kota indah yang seringkali dikunjungi oleh para pelancong. Kecantikan alam serta budayanya, membuat kota-kota ini menjadi destinasi favorit banyak orang ketika berpergian ke luar negeri. Tapi tak hanya indah kotanya, nama-nama kota tersebut ternyata digunakan sebagai nama sebuah gangguan psikologis lho! Memang, apa hubungannya kota indah ini dengan gangguan psikologis tersebut? Berikut informasinya.

5. Sindrom Stockholm, mencintai walau disakiti

Sindrom Stockholm, mencintai walau disakiti

Dalam beberapa film, kita sering menemukan tentang kisah romansa antara si penculik dengan korbannya. Atau korban penculikan yang tiba-tiba merasa simpati lalu jatuh cinta dengan penculiknya. Fenomena ini disebut sebagai Stockholm syndrome.

Nama Stockholm syndrome diambil dari salah satu kejadian perampokan bank Sveriges Kreditbanken yang terjadi di Kota Stockholm, Swedia, pada tahun 1973.

Saat itu perampok menyandera pegawai bank selama 6 hari. Uniknya, setelah korban dibebaskan, mereka tidak bersedia bersaksi untuk memberatkan perampok. Seorang sandera bahkan jatuh cinta dengan perampok hingga membatalkan pertunangannya dengan kekasihnya saat itu. Menurut psikolog, hal ini terjadi karena selama proses penyanderaan, terjalin keterkaitan emosi antara korban pelaku. Di fase awal, korban merasakan stres berat akibat isolasi tersebut. Namun, karena menyadari tak bisa keluar dari keadaan, mereka jadi terbiasa dan menerimanya sebagai kenyataan hidup.

Tahun 1974, Patty Hearst, seorang putri pemilik surat kabar di California diculik oleh kelompok militan. Ia diketahui memiliki simpati pada penculiknya. Dan bahkan bergabung dengan mereka dalam kasus perampokan secara sukarela. Patty pun ditangkap dan diganjar hukuman penjara atas tindakannya tersebut.

Namun berdasarkan keterangan para psikolog, prinsip dasar kerja sindrom Stockholm bisa dikaitkan dengan situasi lain. Contoh adalah kekerasan dalam rumah tangga. Ketika seseorang, terutama perempuan, memiliki ketergantungan pada pasangannya. Ia cenderung tetap tinggal bersama mereka. Atau, ketika Anda punyai pasangan yang abusif, tapi Anda masih bersikeras bersama pasangan. Ini bisa juga menjadi indikasi Anda mengalami sindrom Stockholm.

Baca Juga  7 Perairan Paling Mematikan Di Dunia

4. Sindrom Lima

Sindrom Lima

Berikutnya adalah sindrom Lima. Berbeda dengan sindrom Stockholm, sindrom ini memiliki hal yang sebaliknya. Penculik bersifat sangat simpatik terhadap korban dan memberikan apa pun yang mereka inginkan.

Sesuai namanya, sidrom ini dikenal setelah adanya peristiwa penyanderaan yang terjadi di kediaman Duta Besar Jepang di Lima, Peru. Dalam insiden yang terjadi pada tanggal 17 Desember 1996 hingga 22 April 1997 ini, para penyandera malah bersimpati pada para korban.

Beberapa hari setelah penyanderaan, para militan tersebut membebaskan sebagian beesar tawanan dan tampak mengabaikan kepentingan mereka semula.

Para sindrom Lima, wujud dari pelaku kejahatan bermacam-macam. Mulai dari melindungi korban, memberi mereka obat bila sakit, hingga berjanji takkan menyakiti mereka. Pada beberapa kasus, penculik atau pelaku kejahatan menunjukkan ketertarikan pada korbannya.

3. Sindrom London, perasaan melawan pada pelaku kejahatan

Sindrom London, perasaan melawan pada pelaku kejahatan

Sindrom London bisa dibilang sama dengan sindrom Lima dengan sedikit perbedaan. Jika pada sindrom Lima, para korban bersifat kooperatif, namun di sindrom London, korban menentang para penyandera.

Sindrom ini dikenal pertama kali saat separatis Arab mengambil alih Kedutaan Besar Iran di London pada 30 April hingga 5 Mei 1980. Enam anggota bersenjata kelompok Iran-Arab yang berkampanye untuk kedaulatan nasional Arab, menahan 26 orang, termasuk staf, pengunjung, dan seorang polisi.

Para pelaku menuntut pembebasan tahanan Arab dari berbagai penjara di Khuzestani, serta jalan keluar yang aman dari Inggris. Namun, pemerintah Margaret Thatcher menolak. Hari berikutnya, negosiasi polisi berhasil dan menghasilkan pembebasan 5 sandera. Setelah di hari keenam, para penyandera semakin frustrasi karena kurangnya kemajuan dalam memenuhi tuntutan.

Malam itu, seorang sandera bernama Abbas Lavasani tewas. Rupanya selama penyanderaan, Abbas selalu berdebat dengan para teroris. Ia selalu mengungkapkan pandangan politik yang bertentangan dengan para penculiknya. Perlawanan ini membuat Abbas akhirnya tewas.

Baca Juga  Desa-Desa Paling Menyeramkan Di Dunia

Bagi sandera perlawanan mungkin bisa menjadi cara untuk bertahan hidup. Namun, seiring terbukti menjadi usaha beresiko, terutama jika penyerang apatis terhadap sandera dan bersedia melakukan pembunuhan untuk tujuan mereka.

2. Sindrom Florence, perasaan berlebihan saat melihat karya seni

Sindrom Florence, perasaan berlebihan saat melihat karya seni

Florence memang dikenal sebagai salah satu kota terindah di dunia. Siapa sangka kota di Italia ini juga dikenal sebagai tempat lahirnya sebuah kondisi gangguan psikologis yang bernama sindrom Florence.

Dikenal juga dengan nama sindrom Stendhal, sindrom ini mengacu pada perasaan berlebihan yang menimbulkan keringat berlebihan, sesak napas, susah konsentrasi, hingga sakit kepala terhadap sesuatu yang indah. Sindrome ini biasa dialami oleh orang-orang yang berkunjung ke Florence dan melihat berbagai karya seni kelas dunia.

Dalam bukunya, seorang penulis asal Prancis Marie-Henri Beyle menceritakan fenomena yang dialaminya saat mengunjungi Florence di tahun 1817. Ketika berjalan-jalan di Basilica, Santa Croce, ia tiba-tiba diliputi emosi yang mendalam. Marie-Henri menggunakan nama Stendhal dalam buku-bukunya sehingga selanjutnya dijadikan dasar penamaan sindrom Stendhal.

Pada dasarnya, tidak ada bukti ilmiah yang dapat menjelaskan sindrom ini sebagai gangguan psikiatris tertentu. Akan tetapi, terdapat bukti bahwa area-area otak yang terlibat dalam merespon emosi menjadi aktif selama terpapar karya seni.

Stendhal syndrome paling sering terjadi di Florence, karena kota tersebut merupakan pusat untuk kesenian dari zaman Renaissance terbesar di dunia.

1. Sindrom Paris, Paris tak seramah bayangan

Sindrom Paris, Paris tak seramah bayangan

Sindrom ini adalah sebuah kondisi psikologis yang dialami oleh hampir semua wisatawan asal Jepang yang kecewa ketika Paris tidak sesuai dengan ekspektasi romantis mereka.

Istilah sindrom Paris pertama kali muncul pada tahun 2004. Saat itu belasan turis asal Jepang dipulangkan dari Paris dengan mengalami guncangan mental. Gejalanya persis seperti orang hilang ingatan, seperti misalnya meracau dan mengacu sebagai Raja Matahari atau titisan Raja Louis XIV.

Baca Juga  6 Wisata Asyik Di Bawah Tanah

Gaya pelayan toko yang sering berteriak-teriak pada pelanggan yang tidak fasih berbahasa Inggris, serta sopir taksi yang suka ribut ketika harus berebut penumpang dan mengemudi dengan ugal-ugalan membuat para turis stres. Karakter warga Paris yang temperamental bertolak belakang dengan kultur turis asal Jepang.

Sebelumnya para turis ini punya bayangan bahwa Paris adalah kota cahaya dan kota cinta. Padahal Paris juga seperti kota lain dengan permasalahan seperti kerusuhan, penduduk yang tidak ramah, dan sebagainya.

Selain meracau, penderita biasanya mengalami depresi atau bahkan psikosis akut, sehingga pihak Kedubes Jepang punya hotline 24 jam untuk kasus ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *