October 30, 2020
5 Desa Anti Pria Di Dunia

5 Desa Anti Pria Di Dunia

Banyak yang bilang bahwa wanita selalu membutuhkan pria. Demikian pula sebaliknya. Namun, tahukah Anda, ada lho desa-desa yang justru dihuni kaum wanita saja. Karena berbagai macam alasan, kaum Adam haram menginjakkan kaki di tempat ini. Wanita-wanita ini mampu menjalani hidup tanpa kesulitan. Mereka sanggup mengurus keluarga sekaligus mencari nafkah dengan cara beternak, bertani, dan lain sebagainya. Inilah desa-desa anti pria!

5. Noiva do Cordeiro, Brazil

Noiva do Cordeiro, Brazil

Indahnya Noiva do Cordeiro tak dapat dipungkiri. Bukit-bukit yang terhampar cantik, pepohonan tinggi, ditambah sejuknya desiran angin, membuat masyarakat tak ingin pergi dari sini. Namun siapa sangka dibalik segala kecantikan tempat ini, ternyata hanya dihuni oleh wanita saja.

Noiva do Cordeiro didirikan pada 1890 oleh Maria Senhorinha de Lima. Ia adalah wanita korban pengasingan karena dianggap berzinah. Sebelumnya, Maria terpaksa menikahi seorang pria yang tidak dicintainya. Merasa tidak tahan, Maria memilih pergi bersama orang lain. Beberapa tahun kemudian, wanita dari berbagai penjuru Brazil mulai berdatangan untuk mengunjungi Maria. Hingga pada akhirnya memilih menetap dan membangun sebuah desa tanpa pria. Sejak saat itu, Maria menjadi pemimpin kota. Hingga kini, Noiva do Cordeiro dihuni oleh tak kurang dari 700 wanita.

Mereka saling bahu-membahu membantu satu sama lain. Jika terjadi perselisihan, mereka dapat mengatasinya dengan baik. Hidup rukun sangat terlihat dari masyarakat Noiva do Cordeiro.

Sebenarnya, Noiva do Cordeiro tidak pernah melarang adanya pernikahan. Hanya saja, sang suami diperbolehkan mengunjungi istrinya setiap satu bulan sekali. Maka tidak heran apabila seluruh suami bekerja di luar kota.

Apabila pasangan suami istri memiliki anak seorang pria, maka setelah berusia 18 tahun, si anak harus pergi untuk meninggalkan desa seperti yang dilakukan ayahnya.

Baca Juga  7 Boneka Yang Bernyawa Di Dunia

4. Umoja, Kenya

Umoja, Kenya

Seperti Noiva do Cordeiro, Desa Umoja di Kenya hanya dihuni oleh wanita tanpa seorang pria. Peraturan utamanya juga sama, pria-pria pantang masuk ke desa.

Desa Umoja memiliki sejarah panjang nan kelam. Jauh sebelum Desa Umoja terbentuk, Suku Samburu memiliki tradisi cukup aneh. Dahulu, suku ini menghalalkan tindakan perkosaan sebagai jalan untuk menikahi seorang wanita. Tradisi pemerkosaan Suku Samburu berujung pada tindakan kekerasan seksual lainnya, seperti kawin paksa dan sunat bagi wanita. Belum lagi masuknya tentara Inggris yang sering kali melecehkan mereka.

Melihat kenyataan ini dan menjadi korban, maka pada tahun 1990, seorang wanita bernama Rebecca Lolosoli bersama 16 wanita lain yang senasib, membangun sebuah desa tak jauh dari padang rumput Samburu. Desa tersebut mereka namakan Umoja, yang berarti persatuan.

Di padang rumput gersang dan sunyi ini, wanita-wanita tangguh tersebut merintis kehidupan baru tanpa perlu kehadiran pria.

3. Desa kecil di Pulau Kihnu

Desa kecil di Pulau Kihnu

Di Eropa Barat, tepatnya di Estonia, terdapat sebuah pulau di Laut Baltik yang hanya dihuni oleh kaum Hawa. Pulau ini dijalankan oleh wanita selama berabad-abad, mulai dari membesarkan anak, bekerja di ladang, hingga menangani masalah pemerintahan.

Seluruh penduduk yang berjenis kelamin wanita bukan karena disengaja dan ingin mencari sensasi. Mereka terbentuk karena tak punya pilihan lagi, lantaran para pria di pulau tersebut harus pergi selama berbulan-bulan untuk mencari nafkah. Kondisi ini terpaksa membuat para wanita mau tidak mau menjadi mandiri dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka dan keluarga.

Para wanita di sini amat menjaga kebudayaan dan tradisi. Salah satunya, mereka masih mengenakan pakaian tradisional dalam aktivitas sehari-hari.

Baca Juga  4 Tempat Di Dunia Paling Mematikan Yang Dilarang Dikunjungi

Dibalik kekuatan, kemandirian, dan kelestarian budaya di Pulau Kihnu, para penduduk memiliki satu tantangan. Yaitu membuat para generasi mudanya tetap berada di pulau ini. Pasalnya, mereka yang pergi merantau seringkali tidak pernah kembali.

2. Dewa Jinwar

Dewa Jinwar

Desa anti pria berikutnya bernama Jinwar. Desa di Suriah ini dibangun oleh sekelompok wanita dalam pelarian akibat perang. Kala ISIS berkuasa, ribuan wanita diculik dan dijadikan budak seks. Kini, sekelompok wanita pemberani telah membuktikan diri bahwa mereka memiliki kekuatan.

Jinwar merupakan tempat perlindungan bagi perempuan yang membutuhkan dukungan, terutama mereka yang kehilangan orang tercinta karena perang.

Jinwar terletak beberapa kilometer dari Qamishli, sebuah kota di wilayah Kurdi, Timur Laut Suriah.

Para wanitanya membangun sendiri rumah-rumah disini. Mural dan patung wanita tersebar di sekitar lokasi. Di tengah desa terdapat taman bunga dan semacam padang rumput. Untuk berjaga-jaga akan ancaman yang mengintai, para wanita memiliki senjata lengkap. Untuk keharian, penduduk Jinwar disibukkan dengan berbagai pekerjaan, seperti beternak atau memasak di dapur umum yang tersedia.

Uniknya, Desa Jinwar menerima pengunjung yang datang untuk belajar kehidupan di sini.

1. Desa Al Samaha, di Edfu, Mesir

Desa Al Samaha, di Edfu, Mesir

Desa Al Samaha di Kota Edfu, Mesir, menjadi rumah bagi sekitar 300 perempuan. Tidak ada satu pun laki-laki, karena kaum Adam dilarang menginjakkan kaki di desa ini. Larangan lelaki memasuki desa telah diberlakukan sejak didirikannya Desa Al Samaha oleh pemerintahan Mesir.

Desa Al Samaha sengaja dikhususkan untuk pemerintah kepada kaum perempuan yang telah bercerai, para janda, dan juga perempuan lajang yang belum memiliki suami.

Tepat pada tahun 1998, Kementerian Pertanian membuat program desa baru bagi perempuan yang pisah dengan suaminya. Setiap keluarga mendapat sebuah rumah, lahan seluas 6 hektar, serta kebutuhan pokok pertanian, dengan syarat tidak diperkenankan ada pria di keluarga itu. Jika seorang janda, maka hanya tinggal dengan anak-anaknya. Jika ada warga yang hendak menikah, maka diharuskan meninggalkan desa. Tanah dan rumah yang ditinggali akan ditarik kembali.

Baca Juga  7 Pulau Yang Diperkirakan Akan Tenggelam

Proyek Desa Al Samaha bertujuan agar kaum perempuan yang kehilangan anggota keluarga mereka, suami maupun ayah, dapat mandiri dan mencari nafkah bagi anak-anak mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *